Ulasan Tentang Garap Keris

0 563

Pada era Pajajaran ada 400 tukang keris yg dibawahi oleh seorang Lurah Mpu, demikian pula pada Era Majapahit sampai Mataram ada ratusan tukang keris dan pande keris serta tukang wesi yg juga membuat Keris, Waos (Tumbak) dan Pedang dsb.

Juga disebutkan adanya tukang Keris yg abrag – abragan (asal – asalan dalam membuat Keris) sehingga karyanya dipandang kurang bagus. Ini semua tertulis dalam Serat Cariyosipun Para Mpu tersebut.

Dalam Serat Cariyosipun Para Mpu dikatakan :
Jolajali wastanira
Nanging ora pandhe Keris Sebab ora pati guna
Mapan asring gawe keris
Wong cilik den ladeni
Dene awon warnanipun
Mentah warnaning tosan
Pamor batan hamarkitik
Besembiyan dhapur kidung nora ladak

Selebihnya dalam serat ini disebutkan adanya :

  1. Tukang Wesi
  2. Pande Keris
  3. Panjak
  4. Tukang Keris
  5. MPu Keris
  6. Lurah mPu

Dari pemahaman ini maka ada sebuah penilaian dari seorang mumpuni terhadap mana – mana orang yg disebut Mpu mana yg disebut tukang Keris dan Pande Wesi. Tidak semua pembuat Keris adalah Mpu. Dan tidak pula semua Keris bisa menyimpan kekuatan. Ada Keris yg sifatnya benar-benar pusaka dan menyimpan kekuatan/energi dahsyat, ada yg tidak. Ada Keris yg Garap ada yg tidak, ada yg Wangun dan tidak. ini menunjukkan siapa pembuatnya. Kualitas Garap ini telah dikritisi oleh para pemerhati Keris jaman dahulu dalam berbagai serat-serat kuno yg kita belum mengetahuinya.

Sinengkernya kaweruh padhuwungan berupa serat – serat yg mungkin hanya tersimpan di kepustakaan kraton, pura – pura dan musium2 dan tidak pernah dikaji akan membutakan mata kita terhadap kaweruh padhuwungan.

Sehingga akhirnya muncul pemahaman buta bahwa keris jaman dahulu tidak boleh dilombakan. Mengapa? Ini karena kita terkungkung dalam sangkar emas. Perlu dipahami bahwa budaya terus berkembang. Bahwa kaweruh padhuwungan perlu terus dikembangkan. Dari mulai tahapan kaweruh padhuwungan tutur, klasik, tradisional, peralihan sampai pada modern (saat ini), maka kaidah – kaidah, ukuran – ukuran, nilai – nilai keindahan, garap, seni, sampai pada aspek estetika menjadi sebuah pemahaman yg perlu dikaji mendalam.

Dengan adanya kajian atas estetika sebuah Keris (baik itu tua maupun baru) akan bisa membuka mata masyarakat perkerisan bahwa sesungguhnya budaya keris itu sangat kaya makna dan masih banyak yg belum kita garap. Seperti halnya keserasian antara keris dan wrangka yang nantinya akan bermuara pada Curiga Manjing Wrangka, manunggal dari 2 benda (keris & wrangka), tidak harus menjadi satu, tetapi sinergi (manunggal), ini perlu kita pahami lebih mendalam.

Oleh karena itu, pandangan – pandangan yang masih menolak atas sebuah penilaian terhadap keris – keris tua sangatlah tidak beralasan. Bahkan bisa menghambat kajian – kajian dan upaya eksplorasi ilmu – ilmu kuno para leluhur kita. Sekali lagi, sejarah telah dituangkan dalam bentuk serat – serat yg perlu kita pelajari. Jangan lantas mengatakan bahwa keris tua tidak bisa diganggu gugat. Sisi Kepusakaan keris kuno/tua tetap kita hormati, tetapi eksplorasi atas kaweruh/pengetahuan bab keris lebih mendalam perlu kita lakukan sebagai proses untuk menemukan jati diri Ilmu Pengetahuan tentang Keris (Kerisologi).

Semoga ini bisa membuka cara pandang kita.

Comments
Loading...