Tujuan Pembuatan Keris Pusaka Berdaya Magis dan Manfaat Bagi Pemilik

0 1.061

Keris adalah salah satu pusaka atau senjata andalan orang-orang jaman dahulu, khususnya orang-orang Jawa. Kekuatan gaib yang terdapat didalam sebuah keris konon dapat memberi kekuatan kepada pemilik keris tersebut. Namun, memang tidak semua keris memiliki kekuatan gaib, biasanya tergantung dari siapa yang membuat keris tersebut. Dan dalam proses pembuatannya, juga di dasarkan pada tujuan penggunaan keris.

Para empu (pembuat keris) biasanya menerima pesanan dari orang-orang yang tertarik untuk menggunakan keris sebagai senjata andalannya, itu sebabnya tidak semua empu bisa menghasilkan keris yang baik. Karena dibutuhkan ritual serta syarat-syarat tertentu dalam pembuatan keris supaya kekuatan gaib dapat masuk kedalam keris yang sedang dibuat.

Pembuatan Keris Gaib

Keris sengaja dibuat oleh empunya dengan kegaiban di dalamnya, untuk menjadi piyandel bagi pemiliknya, yaitu selain sebagai senjata juga diandalkan mendampingi kehidupan sehari-hari pemiliknya karena keris mempunyai kegaiban / tuah tersendiri yang berbeda dengan jenis senjata lain, yang bukan hanya dibuat untuk tujuan kesaktian, tetapi juga untuk membantu perlindungan gaib, kekuasaan, kepangkatan dan wibawa, atau membantu kerejekian dan ketentraman. Dengan demikian kegaiban itu merupakan ciri / karakteristik khusus dari sebuah keris yang membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain.

Yang sangat membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain adalah justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris itu sendiri sejak awal pembuatannya. Jadi, bila ada keris yang tidak ada isi gaibnya (kosong), maka itu bukanlah keris, tetapi keris-kerisan.

Selain yang bentuknya keris, ada juga tombak dan pedang yang dibuat dengan filosofi dan tatacara pembuatan yang sama dengan keris jawa. Ada banyak tombak yang diciptakan bukan untuk menjadi senjata di lapangan seperti halnya tombak prajurit, tetapi diciptakan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten, ada juga yang menjadi pusaka pribadi. Tombak-tombak itu kegaibannya sama dengan keris jawa.

Tombak, pedang jawa dan keris jawa mempunyai kegaiban yang sama. Isi gaib tombak juga sejenis dengan isi gaib keris, hanya saja secara umum tombak memang lebih banyak yang dibuat untuk menjadi senjata di lapangan, kegunaannya lebih banyak sebagai senjata tarung. Hanya sedikit tombak yang dibuat untuk pribadi yang kebanyakan dulunya dibuat untuk menjadi lambang kebesaran status manusia pemiliknya yang adalah seorang raja / adipati / bupati atau bangsawan. Sedangkan keris bersifat pribadi, baik yang dibuat untuk pribadi orang per orang, maupun yang dibuat untuk menjadi lambang kebesaran, semuanya bersifat pribadi, sehingga sampai sekarang yang lebih banyak diperhatikan kegaibannya sebagai pusaka pribadi adalah keris, bukan tombak.

Cara Mendatangkan Kekuatan Keris Pusaka

Setiap keris dibuat sebaik mungkin sesuai batas kemampuan sang empu keris, melalui proses spiritual untuk mencari tahu keris apa yang cocok bagi si pemesan, puasa dan laku tirakat untuk mendatangkan gaib keris yang cocok dengan si pemesan, puasa dan laku tirakat dalam masa persiapan pembuatan keris, laku tirakat selama proses pengerjaan hingga selesai, dan sebagainya, sampai keris tersebut selesai dibuat. Setelah pembuatannya selesai pun masih lagi dilakukan proses ritual untuk menyatukan keris dan kegaibannya dengan si pemesan.

 
Illustrasi  Ritual Mendatangkan Kekuatan Gaib Keris Pusaka

Karena itu bila pembuatannya belum selesai atau belum sempurna, menurut tanggapan sang empu, maka keris itu tidak akan diserahkannya kepada si pemesan. Keris tersebut baru akan diserahkannya bila menurut tanggapan sang empu keris tersebut telah benar-benar sempurna segalanya, sempurna pembuatannya, sempurna kegaibannya, sempurna sesajinya, dan sempurna kecocokkannya dengan si pemesan.

Itulah yang terjadi ketika Mpu Gandring menolak untuk menyerahkan keris buatannya yang belum sempurna, sehingga Ken Arok harus merampasnya dengan paksa.  Dan karena Ken Arok dengan kesombongannya sudah merampas dan bahkan menusuknya dengan keris itu, di dalam kemarahannya Mpu Gandring mengucapkan kata-kata kutukan bahwa Ken Arok tujuh turunan akan mati oleh keris itu. Dan ucapannya jadi .
Demikianlah terjadi. Entah bagaimana pun caranya Ken Arok dan anak-anaknya atau orang lain yang dekat / diaku anak olehnya atau oleh anak-anaknya, pasti mati oleh keberadaan keris itu. Kata-kata Mpu Gandring itu adalah perintah bagi si gaib keris untuk melaksanakannya, terserah bagaimana caranya.

Gaib Keris Dapat Diperintah Oleh Pemiliknya

Pada saat penobatan Gajah Mada oleh Ratu Tribhuana Tunggadewi menjadi Mahapatih Majapahit, sambil menghunus keris lurusnya Surya Panuluh, Gajah Mada mengucapkan “Sumpah Palapa”, sesudah wilayah “Nusantara” bersatu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, barulah Gajah Mada mau menikmati palapa (menikmati hidup santai atau berhenti bekerja). Dengan sumpahnya itu Gajah Mada menyatakan akan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, tidak akan hidup santai sebelum sumpahnya terlaksana.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada, kerisnya menjadi saksi kesungguhan tekadnya. Tetapi Sumpah Palapa itu sangat menggemparkan dan dicemooh banyak orang yang hadir di dalam acara pelantikan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi, karena Gajah Mada mengikrarkan penaklukkan atas wilayah yang luas sekali, sedangkan Majapahit saat itu belumlah menjadi kerajaan besar dan jumlah prajuritnya juga tidak cukup banyak.

Ilstrasi

Tetapi bersama kerisnya, yang mengiringinya dengan kegaibannya, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa berhasil diwujudkan oleh Gajah Mada, kerajaan Majapahit berjaya mengembangkan kekuasaannya bukan hanya ke utara seperti pada jaman Singasari, tetapi juga ke timur dan ke barat. Di bawah kerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan Singasari dahulu diperluas lagi menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah nusantara. Mahapatih Gajah Mada telah membuktikan tekadnya mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan tidak berhenti bekerja sebelum Majapahit mencapai kejayaannya.

Gajah Mada juga berhasil menaikkan wibawa raja di mata rakyatnya, mewujudkan figur raja jawa yang tergambar dalam filosofi manunggaling kawula lan gusti, manunggalnya rakyat dengan rajanya, dimana rakyat menjunjung tinggi raja sesembahannya dan raja mengayomi rakyatnya. Juga para penguasa daerah di jawa timur dan jawa tengah, kadipaten dan kabupaten, menjunjung tinggi dan menyatu dengan kebesaran kerajaan Majapahit, sehingga meniadakan hasrat untuk memberontak. Semuanya menyatu di bawah panji-panji Majapahit.

Karakter Kekuatan Gaib Keris Pusaka

Sifat dan kekuatan kegaiban keris bervariasi, tidak semuanya sama. Seseorang yang memiliki sebuah keris tidak berarti ia juga pasti telah menguasai kegaiban dari keris itu, karena kekuatan kegaiban keris itu hanya akan sempurna ketika jiwa keris itu telah menyatu, telah luluh ke dalam pribadi manusia pemiliknya. Begitu juga bagi yang memiliki atau mengkoleksi banyak keris.

Tuah keris yang paling dasar adalah untuk kesaktian. Semua keris, apapun jenis kerisnya dan jenis tuahnya, mengandung unsur kesaktian dan kekuatan gaib di dalamnya. Walaupun tuah utamanya adalah untuk kerejekian, ketika sedang digunakan untuk berkelahi / bertarung, keris itu akan berfungsi sebagai keris kesaktian, kekuatan gaib di dalamnya akan berfungsi sebagai khodam senjata tarung untuk menembus dan melumpuhkan pertahanan gaib lawannya.

Walaupun tuahnya untuk kerejekian, biasanya kekuatan gaib kerisnya jauh di atas kekuatan jimat-jimat kebal yang biasa dipakai orang, seperti mustika wesi kuning, rante babi, merah delima, ataupun jimat-jimat kebal rajahan / isian, yang kesaktian keris itu akan dapat menembus pertahanan kekebalan orang yang memakai jimat kebal dan merobek-robek tubuhnya.

Tuah dasar lainnya adalah untuk perlindungan gaib bagi si pemilik keris dari serangan gaib atau kejahatan. Jadi, selain tuah utamanya yang untuk kesaktian, kekuasaan, kewibawaan atau rejeki, keris juga memberikan tuah perlindungan gaib (keselamatan) bagi si pemilik. Kekuatan gaib di dalamnya dapat juga diminta bantuannya untuk memberikan pagaran gaib atau perlindungan gaib untuk si pemilik keris dan keluarganya. Dengan demikian, bila dikatakan ada sebuah keris yang bertuah kesaktian, kewibawaan, atau rejeki, sebenarnya terkandung juga di dalamnya tuah untuk perlindungan gaib, walaupun tuah itu mungkin tidak terasa dominan.

Pada jaman sekarang orang lebih suka mencari benda-benda yang bisa memberikan tuah yang sering disebut jimat. Biasanya jimat-jimat inilah yang banyak dimiliki orang, karena selain tuahnya yang diharapkan, juga bentuknya lebih sederhana / kecil, mudah dibawa dan tidak memerlukan perawatan khusus seperti keris. Namun keris tetap mempunyai peminat tersendiri, bahkan banyak juga orang yang sengaja mengkoleksi keris.

Penunggu (penghuni) Keris Pusaka

Mahluk halus yang menghuni sebuah keris (keris jawa yang dibuat oleh empu keris jaman dulu, bukan keris baru buatan jaman sekarang – keris kamardikan) adalah mahluk halus jenis tersendiri, tidak sebangsa dengan jin atau dedemit seperti banyak dikata orang. Jenis gaib di dalam keris jawa sifatnya mirip dengan yang biasa disebut “wahyu”, seperti wahyu keprabon, kepangkatan, lurah, dsb,  tetapi dimensinya lebih rendah daripada gaib wahyu  (dibandingkan gaib wahyu, sosok wujud gaib keris lebih mudah dilihat dan lebih mudah dirasakan keberadaannya). Walaupun banyak orang sekarang sering menyebutnya sebagai “khodam” keris, tetapi oleh para empu keris dan para pemerhati keris jawa, gaib keris itu sering disebut wahyu.

Ilstrasi

Dalam rangka  “mendatangkan” gaib untuk sebuah keris dilakukanlah laku puasa dan tirakat oleh sang empu. Proses laku-nya menggunakan olah batin dan olah spiritual secara mendalam, karena yang akan didatangkan adalah sesosok gaib jenis khusus, tidak sama dengan proses mengisikan gaib ke dalam batu cincin atau jimat yang hanya menggunakan amalan gaib atau kebatinan saja.

Ketika sang gaib keris sudah menyatu dengan kerisnya (sebagai rumahnya yang baru), maka dikatakan ‘wahyu’-nya sudah datang. Ketika si pemilik keris sudah menerima keris itu dari sang empu keris (yang sudah selesai pembuatannya), maka si pemilik keris disebut “kewahyon”. Disebut demikian karena “wahyu”-nya menyertai dia, dan memang dikhususkan hanya untuk dia saja, bukan untuk orang lain ataupun keturunannya.

Wujud Sosok Gaib Pada Keris Pusaka

Wujud dari sosok gaib keris bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Isi gaib keris berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada mahluk halus bangsa wahyu. Mereka menghormati para dewa yang menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau “turun” untuk mengikut kepada seorang manusia hanya  jika diminta oleh seorang spiritualis (empu keris) yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya. Namun setelah tugasnya selesai (setelah si pemilik keris meninggal, atau setelah kerisnya dipindahtangankan), mereka tidak segera kembali ke asalnya, tetapi memilih tetap tinggal di dalam kerisnya yang telah menjadi rumahnya yang baru.

Demikian ulasan singkat mengenai Cara Mendatangkan Gaib Keris Pusaka dan Tujuan Pembuatan Keris. Semoga saja artikel sederhana dan singkat ini dapat menambah infomasi kepada Sobat pembaca Cara Menjamas Keris. Di kesempatan berikutnya kita kan mengupas lebih jauh tentang seluk beluk keris dan mitos serta mistis seputar keris pusaka.

Source https://kerisku.id http://caramenjamaskeris.blogspot.co.id
Comments
Loading...