Sejarah Kerajaan Mataram Islam

0 699

Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam) merupakan kerajaan Islam di tanah Jawa yang berdiri pada abad ke-17. Kesultanan ini dipimpin oleh dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai keturunan penguasa Majapahit.

Kerajaan Mataram Islam pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan Madura. Kerajaan ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya VOC, namun ironisnya Kerajaan ini malah menerima bantuan VOC pada masa akhir menjelang keruntuhan.  Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian. Kerajaan ini meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat ditemui hingga kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Jawa Barat (Pantura), penggunaan hanacaraka, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku sampai sekarang.

 Asal Mula Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan ini bermula dari suatu Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang, yang ada di Bumi Mentaok yang diberikan pada Ki Ageng Pemanahan oleh Raja Pajang Jaka Tingkir sebagai hadiah atas jasanya menaklukkan arya panangsang dari jipang. Ki Ageng Pemanahan sebagai bupati di Mataram ia memiliki seorang anak yang bernama Sutawijaya. Sutawijaya sendiri adalah yang membunuh arya panangsang sangat memiliki bakat di bidang militer. Ia lalu diangkat menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya (Jaka Tingkir), serta ia dijadikan saudara dengan putra mahkota yakni Pangeran Benawa. Pada tahun 1575 M, Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia. Oleh Raja Pajang selanjutnya Sutawijaya di angkat sebagai Bupati Mataram menggantikan ayahnya. Di bawah kepemimpinannya mataram makin pesat berkembang.

Di tahun 1582, Sultan Hadiwijaya atau Jaka tingkir Raja Pajang wafat. Arya Panggiri yang ketika itu menjadi adipati di Demak merebut Pajang. Putra Sultan Hadiwijaya yang bernama Pangeran Benawa bisa ia singkirkan. Lalu Arya Panggiri naik tahta menjadi Raja Pajang untuk melanjutkan darah dari keturunan Demak. Dalam masa kepemimpinannya, Arya Panggiri kurang disenangi oleh rakyat Pajang. Melihat hal itu, pangeran Benawa berniat untuk merebut kembali kekuasaannya. Dengan bantuan dari bupati mataram yaitu Sutawijaya, Arya Panggiri dapat dikalahkan. Lalu di tahun 1586 M, Pajang diambil alih oleh Sutawijaya karena tak ada putra mahkota yang menggantikan kepemimpinan pangeran benawa serta pusat pemerintahan pajang kemudian di pindahkan ke Mataram. Pemindahan pusat pemerintahan dari pajang ke mataram sekalian menandai berdirinya Kesultanan Mataram.

Peristiwa Penting Kerajaan Mataram

  • Tahun 1558: Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya yang telah mengalahkan Arya Penangsang.
  • Tahun 1577: Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede.
  • Tahun 1584: Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru (raja) di Mataram, yang sebelumnya sebagai putra angkat Sultan Pajang bergelar “Mas Ngabehi Loring Pasar”. Ia mendapat gelar “Senapati in Ngalaga” (karena masih dianggap sebagai Senapati Utama Pajang).
  • Tahun 1587: Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi. namun Sutawijaya dan pasukannya selamat.
  • Tahun 1588: Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar ‘Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama’ yang artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.
  • Tahun 1601: Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai “Panembahan Seda ing Krapyak” karena wafat saat berburu di hutan Krapyak.
  • Tahun 1613: Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena Pangeran Aryo sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang.
  • Tahun 1645: Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.
  • Tahun 1645 – 1677: Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC.
  • Tahun 1677: Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat I meninggal. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.
  • Tahun 1680: Susuhunan Amangkurat II memindahkan pusat pemerintahan (ibu kota) ke Kartasura.
  • Tahun 1681: Pangeran Puger diturunkan dari tahta Plered.
  • Tahun 1703: Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.
  • Tahun 1704: Atas pertolongan VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III kemudian membentuk pemerintahan pengasingan.
  • Tahun 1708: Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya pada 1734.
  • Tahun 1719: Susuhunan Paku Buwono I meninggal kemudian digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta Jawa Kedua (1719-1723).
  • Tahun 1726: Susuhunan Amangkurat IV meninggal kemudian digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.
  • Tahun 1742: Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.
  • Tahun 1743: Dengan bantuan VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian yang sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama Mataran belum melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas pertolongan yang diberikan VOC.
  • Tahun 1745: Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton.
  • Tahun 1746: Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota baru yang dinamai Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus Perang Tahta Jawa Ketiga yang berlangsung lebih dari 10 tahun (1746-1757) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.
  • Tahun 1749: 11 Desember Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru ditundukkan sepenuhnya pada 1830. 12 Desember Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. pada 15 Desember van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.
  • Tahun 1752: Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di daerah Pesisiran (daerah pantura) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan Mangkubumi-Raden Mas Said.
  • Tahun 1754: Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. Pada tanggal 23 September, Nota Kesepahaman Hartingh-Mangkubumi. 4 November, Paku Buwana III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.
  • Tahun 1755: 13 Februari menjadi Puncak perpecahan, hal ini ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar ‘Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah’ atau dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
  • Tahun 1757: Perpecahan kembali melanda Kerajaan Mataram. sehingga muncul Perjanjian Salatiga, perjanjian yang lebih lanjut membagi wilayah Kesultanan Mataram yang sudah terpecah, ditandatangani pada 17 Maret 1757 di Kota Salatiga antara Sultan Hamengku Buwono I, Sunan Paku Buwono III, Raden Mas Said dan VOC. Raden Mas Said kemudian diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta.
  • Tahun 1788: wafat nya Susuhunan Paku Buwono III.
  • Tahun 1792: wafat nya Sultan Hamengku Buwono I wafat.
  • Tahun 1795: wafat nya KGPAA Mangku Nagara I wafat.
  • Tahun 1799: dibubarkan nya VOC oleh benlanda
  • Tahun 1813: Perpecahan kembali melanda Mataram. P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar “Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam”.
  • Tahun 1830: Akhir perang Diponegoro. Semua daerah kekuasaan Surakarta dan Yogyakarta dirampas Belanda. Pada 27 September, Perjanjian Klaten menentukan tapal yang tetap antara Surakarta dan Yogyakarta dan membagi secara permanen Kerajaan Mataram ditandatangani oleh Sasradiningrat, Pepatih Dalem Surakarta, dan Danurejo, Pepatih Dalem Yogyakarta. Mataram secara resmi dikuasai Belanda.

Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Islam

Pada saat pemerintahan Sultan Agung, beberapa ulama yang ada di kesultanan Mataram dapat dibagi dalam tiga bagian. Yakni ulama yang masih berdarah bangsawan, ulama yang bekerja sebagai alat birokrasi, ulama pedesaan yang tidak menjadi alat birokrasi.

Sebagai penguasa Mataram, Sultan Agung sangat menghormati para ulama karena mereka memiliki moral serta ilmu dan pengetahuan tinggi. Bila ingin membuat kebijakan, Sultan Agung selalu meminta nasehat serta pertimbangan pada para ulama.

Ulama ketika itu sedang konsentrasi mengerjakan soal Islamisasi pada budaya-budaya yang masih menempel di hati masyarakat Mataram. Sunan Kalijaga misalnya, beliau adalah ulama yang selalu berupaya keras agar ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat yang sudah kuat nilai kepercayaan pada ajaran serta doktrin budaya sebelum Islam.

Beragam langkah telah beliau tempuh termasuk juga lewat karya seni yang telah mentradisi di masyarakat.

Memang disadari pindahnya pusat pemerintahan dari pesisir utara Jawa ke daerah pedalaman yang agraris dan telah dipengaruhi budaya pra Islam menyebabkan warna baru untuk Islam yang lalu disebut dengan Islam Sinkretisme. Demikianlah kondisi Islam semenjak berpusat di Mataram campur tangan budaya setempat yang selanjutnya terkenal dengan Islam Kejawen.

Penggunaan gelar Sayidin Panatagama oleh Senopati menunjukkan kalau mulai sejak awal berdirinya Mataram telah dinyatakan sebagai negara Islam. Raja berkedudukan sebagai pemimipin serta pengatur agama.

Mataram menerima agama serta peradaban Islam dari kerajaan-kerajaan Islam pesisir yang lebih tua. Sunan Kalijaga sebagai penghulu terkenal masjid suci di Demak memiliki pengaruh besar di Mataram. Tak hanya sebagai pemimpin rohani, namun sebagai pembimbing di bidang politik.

Hubungan-hubungan erat antara Cirebon serta Mataram mempunyai peranan penting untuk perkembangan Islam di Mataram. Sifat mistik Islam dari keraton Cirebon adalah unsur yang menyebabkan mudahnya Islam diterima oleh masyarakat Jawa di Mataram. Islam itu pasti merupakan Islam Sinkretis yang menyatukan diri dengan unsur-unsur Hindu-Budha.

Tetapi peran ulama menjadi tergeser sejak Mataram dikuasai oleh Amangkurat I. Ketika itu terjadi de-Islamisasi. Banyak ulama yang dibunuh sehingga kehidupan keagamaan turun, sementara dekadensi moral menghiasi keruntuhan Mataram akibat dari campur tangan budaya asing.

Politik dalam Kesultanan Mataram

Dalam sistem politik di kerajaan Mataram periode Senopati sampai Susuhunan Amangkurat I, mengalami turun naik secara drastis. Periode Raden Mas Jolang lalu dengan anaknya Raden Mas Rangsang. Kemudian Susuhunan Amangkurat I bertolak belakang dengan apa yang telah ditempuh pendahulunya.

Untuk sistem politik yang sifatnya intern, terutama menyangkut konsolidasi tata pemerintahan, seperti sistem birokrasi, sistem pergantian raja, masing-masing mereka hampir tak mengalami perbedaan, walau demikian dalam hal penguasaaan wilayah, terkadang mengalami naik turun.

Seperti pada saat Panembahan Senopati, ia dapat mengangkat martabat Mataram ke strata yang lebih tinggi, yaitu menjadikan Mataram berdiri sendiri (yang pada awalnya adalah daerah bawahan Kerajaan Pajang).

Saat kendali pimpinan beralih ke tangan Susuhunan Amangkurat 1, martabat Mataram menjadi menurun kembali, wilayah kekuasaan mulai menciut karena hubungannya dengan kolonial Belanda.

Keabsahan kedudukan serta kekuasaan raja Mataram dicapai karena warisan. Secara tradisional pengganti raja-raja ditetapkan putra lelaki dari istri selir juga umum dinobatkan sebagai pengganti raja. Jika dari keduanya tak memperoleh anak lelaki, maka paman atau saudara lelaki tua dari ayahnya dapat menjadi pengganti.

Tentang sistem politik eksternalnya, di antara penguasa Mataram dapat ditemui perbedaan yang mencolok dalam menerapkan sistem untuk menghadapi penetrasi barat. Ada yang menempuh sikap kompromistis serta ada juga yang anti pati sama sekali.

Pada saat panembahan senopati, usaha itu memang belum ditemui. Hal semacam ini dikarenakan walaupun ketika itu orang-orang Eropa telah ada di Nusantara, konsentrasi politik sedang dicurahkan untuk konsolidasi serta penguasaan kerajaan-kerajaan di sekelilingnya.

Sedangkan pada saat Raden Mas Jolang, kehadiran belanda diterima dengan baik di akhir kekuasaannya. Lain hal dengan penguasa Mataram selanjutnya, Sultan Agung, beliau termasuk juga penguasa yang antipatis pada kompeni.

Berbagai usaha telah dikerahkan untuk mengusik keberadaan serta membendung penetrasinya yang semakin kuat di bumi Nusantara. Dua kali setelah ekspansinya, ia mengirim pasukan militer ke Batavia untuk memukul mundur VOC, masing-masing pada tahun 1628 serta 1629 walaupun pada akhirnya mendapatkan kegagalan.
Terpecahnya Kerajaan Mataram Islam

Setelah sepeninggal sultan agung Mataram tak memiliki pemimpin secakap beliau hingga terjadi beragam kekacauan. VOC tak suka pada Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram mempunyai dua raja serta ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak sampai tertangkap di Batavia selanjutnya dibuang ke Ceylon (sri lanka).

Kekacauan politik baru bisa diselesaikan pada saat Pakubuwana III, sesudah wilayah mataram terbagi menjadi dua. Pada tahun 1755 tanggal 13 februari, wilayah mataram dibagi menjadi dua yakni Kesultanan Ngayogyakarta serta Kasuhunan Surakarta, pembagian wilayah ini tertuang dalam perjanjian Giyanti. Lalu pada tahun 1757 dengan intervensi belanda serta berdasar pada perjanjian salatiga, kesultanan mataram dipecah lagi jadi tiga bagian yakni Kesultanan yogyakarta, Kasuhunan Surakarta serta Mangkunegaran. Serta di tahun 1813 Kesultanan yogyakarta di pecah lagi menjadi dua yakni Kesultanan yogyakarta serta Pakualaman.

Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

 

Mataram mencapai masa kejayaannya ketika dipimpin oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo namun ia lebih dikenal dengan Sultan Agung. Sultan agung dikenal memiliki pribadi yang ulet, kuat serta berani, ia memiliki cita-cita menyatukan pulau jawa di bawah kekuasaan mataram. Pada tahun 1615 M sultan agung memulai ekspedisinya dengan menyerang para bupati didaerah pesisir utara yang tidak ingin tunduk pada mataram. Seperti Bupati Pati, Bupati Lasem, Bupati Tuban, Bupati Madura. Lalu ia juga berhasil menguasai wilayah surabaya, madiun, ponorogo, blora serta bojonegoro.

Pada tahun 1625 hampir semua wilayah pulau jawa ada di bawah kekuasaan mataram kecuali banten, cirebon, blambangan, serta batavia. Sultan agung pernah juga berusaha merebut banten serta batavia, karena ketika itu banten serta batavia masihlah dalam kekuasaan VOC maka ia harus terlebih dulu mengalahkan pasukan VOC. Serangan itu terjadi pada tahun 1628 serta 1629. Namun kedua serangan Sultan Agung itu mengalami kekalahan karena kapal-kapal pengangkut beras perbekalan ditenggelamkan oleh VOC serta gudang-gudang beras pasukan Mataram dibakar, selain itu pasukan mataram juga mengalami kelelahan karena melakukan perjalanan yang cukup jauh.

Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645, ia lalu digantikan oleh putranya Amangkurat 1. Pada saat pemerintahan sultan agung ia juga membuat sistem penanggalan jawa memakai sistem perhitungan yang sama dengan tahun hijriyah.

Terpecahnya Kerajaan Mataram

Pada tahun 1647 Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Plered, tidak jauh dari Karta. Pada saat itu, ia tidak lagi memakai gelar sultan, melainkan ‘sunan’ (berasal dari kata ‘Susuhunan’ atau ‘Yang Dipertuan’). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak yang tidak puas dan pemberontakan. Pernah terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat untuk berkomplot dengan VOC. Pada tahun 1677 Amangkurat I meninggal di Tegalarum ketika mengungsi sehingga ia dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat tunduk pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak suka dan pemberontakan terus terjadi. Pada tahun 1680 kraton dipindahkan lagi ke Kartasura. karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (tahun 1703-1708), Pakubuwana I (tahun 1704-1719), Amangkurat IV (tahun 1719-1726), Pakubuwana II (tahun 1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena ia tidak patuh(tunduk) kepada VOC sehingga VOC menobatkan Pakubuwana I sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua orang raja dan hal tersebut menyebabkan perpecahan internal di Kerajaan. Amangkurat III kemudian memberontak dan menjadi ia sebagai “king in exile” hingga akhirnya tertangkap di Batavia dan dibuang ke Ceylon.
Peninggalan kerajaan mataram Islam: 

Masjid Agung Negara

Masjid ini dibangun oleh PB III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768.

Pasar Kota gede

Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini. Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar ini.

Kompleks Makam Pendiri Kerajaan di Imogiri

Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita dapat menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.

Source Sejarah Kerajaan Mataram Islam Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Islam (Kesultanan Mataram)
Comments
Loading...