Arti Luk Pada Keris

0 11.061

Keris Luk 1.

Dalam pembuatannya, keris ber-luk 1 memiliki makna sebagai sarana untuk membantu pemiliknya mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan membantu supaya keinginan-keinginan si pemilik dapat lebih cepat tercapai, misalnya keinginan dalam hal kekuasaan, kepangkatan dan derajat. Angka 1 merupakan lambang harapan dan karunia kesejahteraan, kemakmuran dan kemuliaan. Dibandingkan keris lurus, keris ber-luk 1 lebih menandakan kekuatan hasrat duniawi manusia yang ingin dicapai. Biasanya keris ber-luk 1 mengeluarkan hawa aura yang agak panas dan sifat energi yang tajam. Kebanyakan dibuat untuk tujuan kesaktian, kekuasaan dan wibawa.

Keris Luk 3.

Makna spiritual dalam pembuatan keris ber-luk 1 dan 3 hampir sama, yaitu sebagai lambang kedekatan manusia dengan Sang Pencipta, dan juga sebagai sarana membantu mempercepat tercapainya keinginan-keinginan dari sang pemilik keris.

Dibandingkan keris ber-luk 1, keris ber-luk 3 lebih menonjolkan keseimbangan antara kehidupan kerohanian dan duniawi manusia, keseimbangan antara sisi spiritual dan jasmani, kemapanan batin dalam menghadapi pergolakan kehidupan dunia. Dibandingkan keris ber-luk 1,  kegaiban di dalam keris ber-luk 3 lebih dapat menyesuaikan diri dengan spiritual / psikologis si pemilik. Hawa aura yang ditimbulkannya juga lebih halus dan lembut.

Keris Luk 5.

Pada jaman kerajaan dahulu (di jawa),  keris-keris ber-luk 5 hanya boleh dimiliki oleh raja, pangeran dan keluarga raja, dan para bangsawan yang memiliki kekerabatan atau memiliki garis keturunan raja, bupati dan adipati. Selain mereka, tidak ada orang lain yang boleh memiliki atau menyimpan keris ber-luk 5.

Demikianlah aturan yang berlaku di masyarakat perkerisan jaman dulu. Keris ber-luk 5 hanya boleh dimiliki oleh orang-orang keturunan raja dan bangsawan kerabat kerajaan, memiliki kemapanan sosial dan menjadi pemimpin di masyarakat.

Biasanya keris ber-luk 5 dibuat untuk tujuan memberikan tuah yang menunjang kekuasaan dan wibawa dan supaya dicintai / dihormati banyak orang. Keris-keris jenis ini diciptakan untuk menjaga wibawa dan karisma keagungan kebangsawanan, dihormati dan dicintai rakyat dan bawahan, dan menyediakan kesaktian yang diperlukan untuk menjaga wibawa kebangsawanan itu. Biasanya keris-keris ber-luk 5 lebih banyak menuntut untuk diberi sesaji dibandingkan keris lurus dan keris ber-luk lainnya.

Keris Luk 7.

 

Angka 7 merupakan lambang kesempurnaan illahi. Keris ber-luk 7 terutama diperuntukkan bagi orang-orang yang menganggap hidup keduniawiannya sudah sempurna, sudah cukup, sehingga sudah tidak lagi mengejar keduniawian untuk lebih menekuni hidup kerohanian. Keris ber-luk 7 dibuat untuk raja dan keluarga raja yang sudah mandito  dan untuk tujuan kemapanan kerohanian / kesepuhan. Dimaksudkan untuk dimiliki oleh raja atau keluarga raja yang sudah matang dalam usia dan psikologis atau yang sudah mandito.

Keris Luk 9.

Keris ber-luk 9 juga dibuat untuk tujuan kemapanan kerohanian dan kesepuhan. Dikhususkan untuk dimiliki oleh para pandita atau panembahan dan para sesepuh masyarakat. Selain memberikan tuah keselamatan, kerohanian / keilmuan dan perbawa kesepuhan, jenis keris ini biasanya mengeluarkan hawa aura yang sejuk.

Keris Luk 11

Keris ber-luk 11, mungkin awalnya dibuat untuk mendobrak kemapanan / pakem pembuatan keris pada jamannya, mengingat angka 11 tidak mempunyai makna tertentu dalam budaya jawa. Keris ber-luk 11 biasanya memiliki pembawaan yang teduh, tidak angker. Tetapi dibalik keteduhan itu terkandung suatu energi gaib yang tajam yang siap menembus pertahanan perisai gaib lawan.

Contoh keris ber-luk 11 adalah Keris Sabuk Inten dan Keris Sengkelat yang terkenal sakti dan banyak dibuat tiruannya. Keduanya memiliki pembawaan yang teduh, tidak angker. Tetapi dibalik keteduhan itu terkandung suatu energi gaib yang tajam yang siap menembus pertahanan perisai gaib lawan, apalagi bila ujung kerisnya diarahkan kepada seseorang.

Awalnya Keris Sengkelat luk 11 memang membingungkan banyak orang karena tidak sesuai dengan kebiasaan / pakem keris yang umum. Selain karena jumlah luk-nya yang 11, keris ini juga berwarna hitam gelap, tidak mengkilat dan tidak berpamor (keleng). Namun karena kesaktiannya yang sangat tinggi, keris ini kemudian banyak dibuat turunannya / tiruannya (tetiron) yang disebut keris-keris berdapur sengkelat.

Keris Luk 13.

Angka 13 dalam budaya jawa mempunyai makna yang jelek, yaitu kesialan, musibah atau malapetaka. Keris ber-luk 13 dibuat dimaksudkan dengan kesaktian dan wibawa kekuasaannya menjadi penangkal kesialan atau musibah. Biasanya dibuat untuk tujuan kesaktian, kekuasaan dan wibawa.

Contohnya yang terkenal adalah keris Nagasasra yang bersifat penguasa, pengayom dan pelindung. Aura wibawa keris ini sangat kuat. Aura wibawanya menunjang kewibawaan pemiliknya supaya disujuti banyak orang dan wataknya sebagai pengayom dan pelindung akan selalu melindungi orang-orang yang berlindung kepadanya.

Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten adalah sepasang keris yang menjadi lambang kebesaran kerajaan Majapahit. Dan ketika kerajaan Majapahit berakhir, pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris ini juga kemudian dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak.

Kedua keris ini memiliki kesaktian yang setingkat dan sifat-sifat karakter kedua keris ini saling melengkapi. Pada masanya, banyak orang, terutama adalah para penguasa daerah, seperti kadipaten dan kabupaten, yang menginginkan memiliki sepasang keris tersebut, sehingga kemudian banyak dibuat keris-keris tiruannya, yaitu keris-keris berdapur nagasasra (atau berdapur naga), dan keris-keris berdapur sabuk inten.

Beberapa di antara keris-keris tiruan sepasang keris tersebut dibuat berdapur nagasasra tetapi ber luk 11, atau berdapur sabuk inten tetapi ber luk 13.  Sengaja dibuat demikian oleh empunya dengan tujuan menggambarkan karakter gaib kerisnya yang sama dengan perpaduan karakter sepasang keris nagasasra dan sabuk inten.

Keris-Keris ber-Luk lebih dari 13.

Mengenai keris-keris ber-luk lebih dari 13, Penulis tidak menemukan makna tertentu dari maksud pembuatannya yang dapat dikategorikan secara seragam. Jadi tidak ada maksud tertentu dari pembuatannya yang bisa dijadikan patokan dalam menilai keris-keris ber-luk lebih dari 13. Mungkin jenis keris ini sengaja dibuat bentuknya demikian sebagai variasi dari keris-keris yang sudah ada.

Tulisan ini adalah mengenai spiritualitas keris pada saat pembuatannya yang ditentukan dari bentuk lurus atau luk keris yang merupakan spiritualitas dasar dari sebuah keris. Bentuk lurus atau luk sebuah keris merupakan lambang spiritualitas dasar dari sebuah keris. Tetapi bentuk lurus atau luk sebuah keris bukan satu-satunya lambang spiritualitas dasar dari sebuah keris. Lambang spiritualitas keris yang lain adalah bentuk dapurnya. Dapur keris lebih mudah untuk dijadikan patokan menilai karakter sebuah keris, tetapi dapur keris terlalu banyak variasinya untuk dijelaskan satu per satu.

Dengan demikian bentuk keris luk atau lurus dan dapur keris merupakan lambang spiritualitas dasar sebuah keris, dan ini berlaku untuk keris-keris asli yang bukan keris tiruan atau turunan. Untuk keris-keris tiruan atau turunan, biasanya lambang spiritualitasnya mengikuti perpaduan makna dapur keris dan jumlah luk-nya.

Pada keris-keris tiruan / turunan, seringkali ada keris yang memiliki bentuk lurus atau luk dan dapur tertentu, tetapi spiritualitasnya tidak sesuai dengan spiritual keris seperti diuraikan di atas. Bentuk lurus atau luk dan dapur tertentu dari keris tiruan / turunan adalah pesanan khusus dari si pemesan keris, bukan asli hasil kreasi daya cipta sang empu keris.

Dengan demikian, pada keris-keris tiruan / turunan, lambang-lambang spiritualitas dasar di atas seringkali tidak berlaku. Karena itulah, seringkali menilai karakter gaib sebuah keris dengan cara melihat bentuk fisik kerisnya saja akan sering menjadi tidak akurat. Apalagi menilai karakter keris hanya dengan melihat gambar pamor keris, yang biasanya terbentuk secara tidak direncanakan oleh sang empu keris, sehingga tidak selalu menggambarkan karakter keris yang sesuai dengan tujuan keris itu dibuat. Begitu juga dengan kinatah yang seringkali adalah pesanan khusus dari si calon pemilik, bukan asli hasil daya cipta sang empu keris.

Contohnya, seorang bupati / adipati memesan sebuah keris berdapur sengkelat kepada seorang empu keris. Jika si pemesan itu dalam kesehariannya tidak aktif membela kebenaran, menolong yang tertindas, maka sifat orang itu tidak sesuai dengan watak keris sengkelat. Sang empu keris yang mengetahui karakter si pemesan tersebut, tidak akan mendatangkan gaib keris yang berkarakter sama dengan gaib keris sengkelat. Mungkin yang kemudian didatangkannya adalah gaib keris yang berkarakter sama dengan keris pulanggeni atau singa barong, untuk kebangsawanan.

Dengan demikian walaupun fisik kerisnya berdapur sengkelat, tetapi watak kerisnya tidak sesuai dengan watak keris sengkelat. Lagipula, mungkin keris dapur sengkelat tersebut akan diberi banyak hiasan mewah sesuai status si pemesan, yang jelas akan tidak sesuai dengan kesederhanaan watak ksatria keris sengkelat.

Begitu juga bila ada seorang saudagar kaya yang memesan untuk dirinya sebuah keris berdapur nagasasra. Sang empu keris yang mengetahui status dan kepribadian orang tersebut, mungkin tidak akan mendatangkan gaib keris yang berkarakter sama dengan keris Nagasasra. Meskipun keris yang kemudian dibuat oleh sang empu untuk saudagar kaya tersebut adalah keris berdapur nagasasra, tetapi karakter gaib keris tersebut mungkin akan memancarkan kewibawaan status derajat dan kewibawaan kejayaan perdagangan (kerejekian), bukan status derajat dan kewibawaan kekuasaan pemerintahan.

Source ARTI LUK PADA KERIS
Comments
Loading...